Dajjal …!

January 9th, 2008 by alkabumaini
dari : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1205
==================================================================================================================================================
Dajjal, Antara Kenyataan dan Kamuflase
Sabtu, 06 Oktober 2007 - 05:37:55 :: kategori Aqidah
Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman
.:
:.

“Dajjal” acap menjadi topik seru yang dibicarakan banyak orang.
Perkaranya pun kian hangat dengan munculnya orang-orang yang mengaku
atau dianggap orang lain sebagai Dajjal, seperti yang dialamatkan pada
Sri Sathya Sai Baba, seorang begawan dari India. Benarkah dia Dajjal?1

Jika ditinjau dari sisi bahasa, makna Dajjal adalah sangat tepat
untuknya, karena Dajjal berarti banyak berdusta dan menipu. Siapa pun
yang banyak berdusta dan menipu, ada pengikutnya ataupun tidak, maka
dia adalah Dajjal. Demikianlah yang diistilahkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka. Beliau menjelaskan hal
ini dalam banyak hadits seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imam
Al-Bukhari rahimahullahu dalam dua tempat (no. 3340 dalam Kitabul
Manaqib dan no. 6588 dalam Kitab Al-Fitan) dan Muslim rahimahullahu
dalam dua tempat (no. 8 dalam Muqaddimah dan no. 5205 dalam Kitab
Al-Fitan Wa Asyrathis Sa’ah) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيْمَتَانِ
يَكُوْنُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيْمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ
وَحَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ قَرِيْبٌ مِنْ ثَلاَثِيْنَ
كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ وَحَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ
وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ
وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ وَحَتَّى يَكْثُرَ فِيْكُمُ
الْمَالُ فَيَفِيْضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ
صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ عَلَيْهِ فَيَقُوْلَ الَّذِي يَعْرِضُهُ
عَلَيْهِ: لاَ أَرَبَ لِي بِهِ؛ وَحَتَّى يَتَطَاوَلَ النَّاسُ فِي
الْبُنْيَانِ وَحَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ:
يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ؛ وَحَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ يَعْنِي آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ
فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ
مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا

“Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga dua kelompok besar saling
berperang dan banyak terbunuh di antara dua kelompok tersebut, yang
seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi
pendusta hampir 30 orang, semuanya mengaku bahwa dirinya Rasulullah,
dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah menjadi
muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah ruahnya harta di tengah
kalian sehingga para pemilik harta bingung terhadap orang yang akan
menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada
seseorang namun orang tersebut berkata: ‘Saya tidak membutuhkannya’;
orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat
pada sebuah kuburan dia berkata: ‘Aduhai jika saya berada di sana’;
terbitnya matahari dari sebelah barat dan apabila terbit dari sebelah
barat di saat orang-orang melihatnya, mereka beriman seluruhnya (maka
itulah waktu yang tidak bermanfaat keimanan bagi setiap orang yang
sebelumnya dia tidak beriman atau dia tidak berbuat kebaikan dengan
keimanannya).”

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa kata Dajjal sering dipakai untuk
menamai seseorang yang banyak berdusta dan banyak menipu umat. Para
dedengkot kesesatan yang memproklamirkan diri sebagai nabi setelah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para Dajjal. Dan bila
disebutkan Dajjal secara mutlak (tanpa keterangan tambahan, red.) maka
tidak ada yang tergambar dalam benak setiap orang melainkan Ad-Dajjal
Al-Akbar (yang terbesar), yang akan muncul di akhir zaman sebagai tanda
dekatnya hari kiamat dengan sifat-sifat yang sudah jelas sebagaimana
dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengimani Munculnya Dajjal Al-Akbar

Tidak ada keraguan bagi orang yang beriman terhadap segala berita yang
datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masuk akal
ataupun tidak. Karena mereka meyakini bahwa segala yang diberitakan
oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sepanjang riwayatnya
shahih, merupakan berita wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan
segala perkara yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang terkait dengan Dajjal –seperti sifat-sifatnya,
kejadian-kejadian luar biasa yang diperbuatnya, masa tinggalnya di atas
dunia, para pengikutnya, tempat turunnya, siapa yang akan membunuhnya
dan sebagainya– bagi orang yang beriman bukanlah sebuah khurafat dan
tahayul yang menjajah akal serta hati mereka. Bukan pula sebuah
keanehan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadikan keluarbiasaan
pada diri Dajjal. Dan ini tidak akan mengurangi kemuliaan Allah
Subhanahu wa Ta’ala sedikitpun. Mereka menjadikan segala yang terkait
dengan Dajjal sebagai perkara yang akan menambah dan mengokohkan
keimanan mereka terhadap kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta
kebenaran berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka akan
menjadikan segala yang terkait dengan Dajjal sebagai ujian yang datang
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menambah kebajikan mereka di atas
kebajikan. Tidak ada ucapan yang keluar dari orang-orang yang beriman
melainkan:

آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

“Kami beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (Ali ‘Imran: 7)

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Kami mendengar dan kami patuh.” (Al-Baqarah: 285)

Dajjal sebagai Tanda Hari Kiamat

Munculnya Dajjal merupakan salah satu tanda hari kiamat kubra
(tanda-tanda yang besar). Artinya, tanda-tanda yang muncul mendekati
hari kiamat dan bukan tanda yang biasa terjadi. Seperti munculnya
Dajjal, turunnya ‘Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, serta terbitnya
matahari dari sebelah barat. (Lihat At-Tadzkirah karya Al-Imam
Al-Qurthubi rahimahullahu hal. 264, Fathul Bari 13/485, dan Ikmal
Mu’allim Syarah Shahih Muslim, 1/70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan akan
munculnya Dajjal di dalam banyak hadits. Di antaranya yang diriwayatkan
oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 5228) dari An-Nawwas bin Sam’an
radhiyallahu ‘anhu:

ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ
غَدَاةٍ فَخَفَّضَ فِيْهِ وَرَفَّعَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ
النَّخْلِ فَلَمَّا رُحْنَا إِلَيْهِ عَرَفَ ذَلِكَ فِيْنَا. فَقَالَ: مَا
شَأْنُكُمْ؟ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ غَدَاةً
فَخَفَّضْتَ فِيْهِ وَرَفَّعْتَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ
النَّخْلِ. فَقَالَ: غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ، إِنْ
يَخْرُجْ وَأَنَا فِيْكُمْ فَأَنَا حَجِيْجُهُ دُوْنَكُمْ، وَإِنْ
يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيْكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيْجُ نَفْسِهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah tentang Dajjal pada
pagi hari dan beliau mengangkat dan merendahkan suaranya seakan-akan
kami menyangka dia (Dajjal) berada di sebagian pohon korma. Lalu kami
berpaling dari sisi Rasulullah. Kemudian kami kembali kepada beliau dan
beliau mengetahui hal ini, lalu beliau berkata: ‘Ada apa dengan
kalian?’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah, engkau bercerita tentang Dajjal
pada pagi hari dan engkau mengangkat serta merendahkan suara, sehingga
kami menyangka bahwa dia berada di antara pepohonan korma.’ Rasulullah
lantas bersabda: ‘Bukan Dajjal yang aku khawatirkan atas kalian. Dan
jika dia keluar dan aku berada di tengah kalian maka akulah yang akan
menyelesaikan urusannya. Dan jika dia keluar dan aku tidak berada di
tengah kalian, maka setiap orang menyelesaikan urusannya
masing-masing’.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabul Fitan (no.
4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu Suraihah radhiyallahu ‘anhu:

كُنَّا قُعُوْدًا نَتَحَدَّثُ فِي ظِلِّ غُرْفَةٍ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا السَّاعَةَ فَارْتَفَعَتْ
أَصْوَاتُنَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
لَنْ تَكُوْنَ - أَوْ لَنْ تَقُوْمَ - السَّاعَةُ حَتَّى يَكُوْنَ
قَبْلَهَا عَشْرُ آيَاتٍ طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجُ
الدَّابَّةِ وَخُرُوْجُ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَالدَّجَّالُ وَعِيْسَى
ابْنُ مَرْيَمَ وَالدُّخَانُ وَثَلاَثَةُ خُسُوْفٍ خَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ
وَخَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ
تَخْرُجُ نَارٌ مِنْ الْيَمَنِ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَسُوْقُ النَّاسَ
إِلَى الْمَحْشَرِ

“Kami sedang duduk-duduk berbincang di bayang-bayang salah satu kamar
Rasulullah. Kami berbincang tentang hari kiamat, dan suara kami pun
menjadi meninggi. Lalu beliau bersabda: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat
sehingga muncul sepuluh tanda; yaitu terbitnya matahari dari sebelah
barat, munculnya Dajjal, munculnya asap, keluarnya binatang, munculnya
Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa putra Maryam, dan tiga khusuf (terbenam
ke dalam bumi), satu di timur, satu di barat dan satu di Jazirah Arab,
dan api yang keluar dari arah Yaman dari dataran terendah ‘Adn yang
menggiring manusia ke tempat mahsyar’.”

Berita tentang munculnya Dajjal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang wajib diimani dengan sifat-sifat yang telah disebutkan
dengan terang dan jelas yang tidak butuh penakwilan apapun, di
antaranya:

1. Dia dari Bani Adam

2. Laki-laki

3. Pemuda

4. Pendek

5. Berkulit merah

6. Keriting rambutnya

7. Dahinya lebar

8. Lehernya lebar

9. Matanya buta sebelah kanan

10.Tertulis di antara dua matanya ك ف ر (yang bermakna kafir)

11.Tidak berketurunan

12.Pada matanya sebelah kiri terdapat daging tumbuh.

Sifat-sifat di atas disebutkan di dalam banyak hadits baik dalam Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) atau selain keduanya.

Dajjal adalah dari Bani Adam, Bukan Lambang Kejahatan dan Kerusakan

Termasuk benarnya keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan Rasul-Nya yaitu mengimani bahwa Dajjal adalah dari Bani
Adam, dan bukan sebuah lambang kejahatan dan lambang khurafat, seperti
yang telah dikatakan oleh Muhammad Abduh dalam kitab tafsirnya Al-Manar
(3/317), lalu diikuti oleh Abu ‘Ubayyah yang mengatakan bahwa Dajjal
adalah sebuah lambang dari kejahatan dan bukan salah seorang Bani Adam.
(Asyrathus Sa’ah, hal. 316)

Penakwilan ini termasuk sikap memalingkan makna lahiriah (tekstual) nash-nash.

Asal Dajjal dari Bani Adam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Dari penjelasan nash tersebut
tidaklah masuk akal bila dimaknakan kepada sebuah lambang. Coba
perhatikan hadits di bawah ini yang diriwayatkan oleh Al-Imam
Al-Bukhari rahimahullahu (no. 6484) dan Al-Imam Muslim rahimahullahu
(no. 246) dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَيْنَ
ظَهْرَانَيِ النَّاسِ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ أَلاَ إِنَّ الْمَسِيْحَ
الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ
طَافِيَةٌ. قَالَ: وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: أَرَانِي اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ عِنْدَ الْكَعْبَةِ
فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ كَأَحْسَنِ مَا تَرَى مِنْ أُدْمِ الرِّجَالِ
تَضْرِبُ لِمَّتُهُ بَيْنَ مَنْكِبَيْهِ، رَجِلُ الشَّعْرِ يَقْطُرُ
رَأْسُهُ مَاءً، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ وَهُوَ
بَيْنَهُمَا يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالُوا:
الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ. وَرَأَيْتُ وَرَاءَهُ رَجُلاً جَعْدًا
قَطَطًا أَعْوَرَ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَشْبَهِ مَنْ رَأَيْتُ مِنْ
النَّاسِ بِابْنِ قَطَنٍ، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ
يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ. فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا الْمَسِيْحُ
الدَّجَّالُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pada suatu hari di
tengah keramaian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Beliau berkata:
“Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan ketahuilah Al-Masih
Ad-Dajjal adalah buta mata sebelah kanannya, seperti buah anggur yang
menonjol.” Ibnu ‘Umar berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Diperlihatkan
dalam mimpiku pada suatu malam ketika aku berada di Ka’bah, kemunculan
secara tiba-tiba seseorang dari Bani Adam yang terlihat sangat bagus,
berkulit sawo matang dari Bani Adam, rambutnya tersisir di antara kedua
pundaknya, dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak
dua lelaki dan dia melaksanakan thawaf di antara keduanya aku berkata:
‘Siapa ini?’ Mereka berkata: ‘Al-Masih bin Maryam.’ Dan aku melihat di
belakangnya ada seseorang yang sangat keriting rambutnya dan buta
matanya sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan
tangannya di atas pundak dua laki-laki dan thawaf di Ka’bah. Lalu aku
berkata: ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah Al-Masih Ad-Dajjal’.”

Kenapa Tidak Disebutkan Dajjal Di dalam Al-Qur`an dengan Jelas Sebagaimana dalam Hadits-hadits?

Mungkin orang-orang akan bertanya kenapa tidak disebutkan di dalam
Al-Qur`an dengan jelas tentang Dajjal sebagaimana disebutkan di dalam
hadits-hadits? Padahal perkara Dajjal tidaklah jauh lebih besar dari
perkara Ya’juj dan Ma’juj, sementara urusan Ya’juj dan Ma’juj
disebutkan di dalam Al-Qur`an?

Telah disebutkan alasannya oleh para ulama dalam banyak pendapat. Di antaranya:

1. Penyebutan Dajjal di dalam Al-Qur`an termasuk dalam kandungan ayat:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ إِلاَّ أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلاَئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ
رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ
آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ
مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا
إِنَّا مُنْتَظِرُوْنَ

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada
mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Rabbmu
atau kedatangan beberapa ayat Rabbmu. Pada hari datangnya ayat dari
Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri
yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan
dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu, sesungguhnya kamipun
menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)

Yang dimaksud dengan ‘tanda-tanda Rabbmu’ dalam ayat ini adalah
munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari sebelah barat, dan munculnya
daabbah (binatang). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
menjelaskan di dalam sebuah sabdanya:

ثَلاَثَةٌ إِذَا خَرَجْنَ لَمْ يَنْفَعْ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ
آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ: الدَّجَّالُ وَالدَّابَّةُ وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ
مِنْ مَغْرِبِهَا

“Tiga hal apabila telah muncul (terjadi) maka tiada bermanfaat lagi
sebuah keimanan bagi seorang jiwa yang belum beriman (sebelumnya):
Dajjal, daabbah, dan terbitnya matahari dari arah barat.”

2. Al-Qur`an menyebutkan akan turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan
dialah yang akan membunuh Dajjal. Maka dengan menyebutkan Masihil Huda
(Nabi ‘Isa ‘alaihissalam) sudah cukup dari penyebutan Masihidh Dhalal
(Dajjal). Dan kebiasaan orang Arab adalah mencukupkan diri dengan
menyebutkan salah satu yang berlawanan.

3. Bahwa munculnya Dajjal disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada
penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Al-Mu`min: 57)

Yang dimaksud kata “manusia” di dalam ayat ini adalah Dajjal. Dalam
istilah kaidah bahasa termasuk dalam bab penyebutan secara umum
sedangkan yang dimaksud adalah khusus, yaitu Dajjal. Abu ‘Aliyah
berkata: “Artinya lebih besar dari penciptaan Dajjal yang diagungkan
oleh orang-orang Yahudi.” (Tafsir Al-Qurthubi, 15/325)

Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini, kalau memang
benar, adalah sebaik-baik jawaban. Dan ini termasuk perkara-perkara
yang ditugaskan kepada Rasul-Nya untuk dijelaskan. Dan ilmunya ada di
sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Fathul Bari, 13/92)

4. Al-Qur`an tidak menyebutkan Dajjal sebagai bentuk penghinaan
terhadapnya. Di mana dia menobatkan dirinya sebagai Tuhan, padahal dia
adalah manusia. Tentu sikapnya ini menafikan kemahaagungan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan kemahasempurnaan-Nya serta kesucian-Nya dari
sifat-sifat kekurangan. Oleh karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah sangat hina dan kecil untuk disebutkan.

Jika demikian, mengapa tentang Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan
disebutkan di dalam Al-Qur`an? Jawabannya adalah: “Perkara Fir’aun
telah selesai dan habis masanya, dan disebutkan sebagai peringatan bagi
manusia. Adapun urusan Dajjal, akan muncul di akhir zaman sebagai ujian
bagi manusia.”

Dan terkadang, sesuatu itu tidak disebutkan karena jelas dan nyata perkaranya.

Inilah beberapa pendapat dari jawaban dan alasan ulama tentang mengapa
tidak disebutkan permasalahan Dajjal di dalam Al-Qur`an.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu wajar bila muncul, karenanya Ibnu
Hajar rahimahullahu menjelaskan: “Pertanyaan tentang tidak
disebutkannya Dajjal di dalam Al-Qur`an akan terus muncul. Karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkara Ya`juj dan Ma`juj, sementara
fitnah mereka sama dengan fitnahnya Dajjal.” (Fathul Bari, 13/91-92)

Pengarang kitab Asyrathus Sa’ah menguatkan pendapat yang pertama yaitu
Dajjal telah disebutkan di dalam Al-Qur`an sebagaimana kandungan ayat
dalam surat Al-An’am di atas secara global, dan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam diamanatkan untuk menjelaskannya (secara rinci).
(Asyrathus Sa’ah, hal. 333)

Fitnah Dajjal

Tidak ada yang mengingkari bahwa fitnah Dajjal adalah fitnah besar
sepanjang perjalanan hidup Bani Adam di atas dunia ini sampai pada hari
kiamat. Hal ini disebabkan berbagai bentuk keanehan yang diciptakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa diperbuat oleh Dajjal tersebut,
sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat. Dua fitnah yang
sesungguhnya diusung oleh Dajjal untuk merekrut pengikut itulah fitnah
syahwat dan fitnah syubuhat. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa
fitnah besar Dajjal terhadap umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:

1. Bersama Dajjal ada surga dan neraka

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2934) dari
sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى جُفَالُ الشَّعَرِ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ

“Dajjal adalah buta sebelah kiri, sangat keriting rambutnya, dan
bersamanya surga dan neraka. Namun nerakanya adalah surga dan surganya
adalah neraka.”

2. Bersamanya ada sungai-sungai yang penuh air

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 2934) dari shahabat
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

لَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ، مِنْهُ مَعَهُ نَهْرَانِ
يَجْرِيَانِ أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ مَاءٌ أَبْيَضُ وَاْلآخَرُ
رَأْيَ الْعَيْنِ نَارٌ تَأَجَّجُ فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ فَلْيَأْتِ
النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ نَارًا وَلْيُغَمِّضْ ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ
رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ، وَإِنَّ الدَّجَّالَ
مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ عَلَيْهَا ظَفَرَةٌ غَلِيْظَةٌ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ
عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ

“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang menyertai Dajjal. Yaitu,
bersamanya ada dua sungai yang mengalir. Dengan penglihatan mata, salah
satunya adalah air yang putih dan yang lain api yang berkobar. Maka
barangsiapa menjumpai yang demikian hendaklah dia mendatangi sungai
yang dia lihat sebagai api dan pejamkan matanya kemudian tundukkan
kepalanya dan minumlah darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang
dingin. Sesungguhnya Dajjal buta dan pada matanya ada daging tumbuh
yang tebal serta tertulis di antara dua matanya kafir, yang akan dibaca
oleh setiap orang yang beriman baik yang bisa menulis atau tidak.”

3. Memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanamannya

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih
beliau (no. 2937) dari sahabat An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu:

قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا لَبْثُهُ فِي اْلأَرْضِ؟
قَالَ:أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ
كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ
اللهِ، فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِيْنَا فِيْهِ صَلاَةُ
يَوْمٍ؟ قَالَ: لاَ، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ
اللهِ، وَمَا إِسْرَاعُهُ فِي اْلأَرْضِ؟ قَالَ: كَالْغَيْثِ
اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيْحُ، فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوْهُمْ
فَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ
فَتُمْطِرُ وَاْلأَرْضَ فَتُنْبِتُ

Kami berkata: “Ya Rasulullah, berapa lama masa tinggalnya di atas
dunia?” Beliau bersabda: “40 hari. Satu hari bagaikan satu tahun, satu
hari bagaikan satu bulan, dan satu hari bagaikan satu minggu dan selain
itu harinya sama dengan hari biasa.” Kami mengatakan: “Ya Rasulullah,
bagaimana kalau satu hari bagaikan satu tahun, apakah cukup bagi kita
untuk melaksanakan shalat satu hari?” Rasulullah bersabda: “Tidak,
tetapi ukurlah kadarnya.” Kami berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana
tentang kecepatannya di muka bumi?” Beliau bersabda: “Bagaikan hujan
yang ditiup oleh angin lalu dia mendatangi kaum dan menyerukan mereka
sehingga mereka beriman kepadanya dan menerima seruannya. Dia juga
memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan kemudian hujan turun;
dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman maka kemudian tumbuh.”

4. Bersamanya segala perbendaharaan bumi, dan bisa menempuh arah dengan
cepat bagaikan hujan yang ditiup oleh angin. Sebagaimana dalil yang
disebutkan di atas.

5. Menghidupkan dan mematikan.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Sai’d Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu (no. 2938) berkata:

حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا
حَدِيْثًا طَوِيْلاً عَنِ الدَّجَّالِ فَكَانَ فِيْمَا حَدَّثَنَا قَالَ:
يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِيْنَةِ
فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِيْنَةَ
فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ
خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُوْلُ لَهُ: أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي
حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيْثَهُ.
فَيَقُوْلُ الدَّجَّالُ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ
أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّوْنَ فِي اْلأَمْرِ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: لاَ. قَالَ:
فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيْهِ فَيَقُوْلُ حِيْنَ يُحْيِيْهِ: وَاللهِ مَا
كُنْتُ فِيْكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيْرَةً مِنِّي اْلآنَ. قَالَ: فَيُرِيْدُ
الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلاَ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami
sebuah hadits yang panjang tentang Dajjal pada suatu hari. Di antara
apa yang beliau sampaikan adalah: “Dajjal datang dan dia diharamkan
untuk masuk ke kota Madinah, maka dia berakhir di daerah yang tanahnya
bergaram yang berada di sekitar Madinah. Maka keluarlah kepadanya
seorang yang paling baik dan dia berkata: ‘Aku bersaksi bahwa kamu
adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah.’ Lalu Dajjal
berkata (kepada pengikutnya): ‘Bagaimana jika aku membunuh orang ini
kemudian menghidupkannya, apakah kalian masih tetap ragu tentang
urusanku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Dia pun membunuhnya kemudian
menghidupkannya. Orang yang baik itu berkata setelah dihidupkan: ‘Demi
Allah, aku semakin yakin tentang dirimu.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu
Dajjal ingin membunuhnya lagi namun dia tidak sanggup melakukannya’.”

6. Melakukan penipuan dengan mengubah wujud seseorang

Demikianlah beberapa bentuk dari sekian fitnah Dajjal yang sangat
dahsyat. Tidak ada seorang pun yang akan selamat melainkan orang-orang
yang berusaha menyelamatkan dirinya kemudian dijemput oleh rahmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia
selamat dari fitnah Dajjal yang amat sangat dahsyat.

Bentuk fitnah yang juga diusung oleh Dajjal dalam rangka mencari
pengikut adalah fitnah syahwat. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
menguji kita dengan sedikit harta benda dunia dan kita berguguran
menjadi budak kesesatan. Bisa dibayangkan jika si Dajjal mengusung
surga dan neraka, membunuh dan menghidupkan, di tangannya ada
perbendaharaan bumi, memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu
turun. Dan memerintahkan bumi menumbuhkan tanam-tanaman lalu tumbuh,
kemudian menawarkannya kepada kita. Ke manakah kita akan menginjakkan
kaki? Apakah menjadi pengikut Dajjal yang di tangannya kenikmatan semu,
atau menjadi kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala? Jawabannya ada dalam
diri kita masing-masing.

Ucapan Ulama tentang Kejadian Luar Biasa pada Dajjal

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Hadits-hadits ini yang
disebutkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dan selain beliau tentang
kisah Dajjal adalah hujjah bagi ahlul haq tentang kebenarannya. Dia
adalah manusia biasa yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan kemampuan kepadanya berupa hal-hal yang merupakan kekuasaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, seperti menghidupkan mayat yang
dibunuhnya, serta bersamanya ada segala kenikmatan dunia, surga dan
neraka, perbendaharaan dunia, dia memerintahkan langit untuk menurunkan
hujan lalu terjadi dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan lalu
terlaksana. Semuanya terjadi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan kehendak-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan
kepadanya ketidaksanggupan untuk membunuh orang tersebut (setelah dia
menghidupkannya) dan selain orang tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala
juga membatilkan urusannya lalu dia dibunuh oleh Nabi ‘Isa
‘alaihissalam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan orang-orang
yang beriman. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan seluruh ahli hadits serta
para fuqaha dan para peneliti. Berbeda dengan orang-orang yang
mengingkarinya dan menolak perkaranya, seperti Khawarij, Jahmiyyah,
sebagian Mu’tazilah serta selain mereka, yaitu bahwa Dajjal itu benar
adanya, namun kejadian-kejadian luar biasa pada diri Dajjal adalah
khayalan yang tidak memiliki hakikat. Mereka mengira, jika hal itu
benar niscaya tidak ada perbedaan dengan mukjizat yang terjadi pada
diri nabi. Cara berfikir seperti ini termasuk kesalahan mereka
seluruhnya, karena Dajjal tidak mengaku sebagai nabi dan apa yang
terjadi pada dirinya hanya sebatas sebagai bukti bahwa dia Dajjal. Dia
justru mengaku sebagai Rabb, meski pada kenyataannya dia berdusta dalam
pengakuannya, dari sisi penampilannya sendiri, sesuatu yang baru
terjadi, kekurangan dalam hal penciptaan, ketidaksanggupannya untuk
menghilangkan kebutaan matanya dan menghilangkan tulisan kafir yang
terdapat di antara dua matanya.

Karena bukti-bukti ini dan selainnya pada diri Dajjal, maka tidak
tertipu dengannya kecuali orang-orang rendahan. Ini semata-mata untuk
menutupi keinginan dan kemiskinan, berharap untuk memenuhi kebutuhan
hidup, atau menyelamatkan dirinya, atau takut dari gangguannya, karena
fitnahnya yang dahsyat dan membingungkan akal.

Oleh karena itulah, para nabi memperingatkan dari fitnahnya serta
menjelaskan tentang kelemahan dan bukti kedustaannya. Adapun orang yang
diberikan taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka tidak akan
tertipu dan terpesona dengan apa yang menyertainya dari bukti-bukti
yang penuh kedustaan bersamaan dengan apa yang telah dijelaskan tentang
keadaannya. Pantaslah orang yang telah dibunuhnya berkata: “Tidak
menambahku tentang dirimu kecuali keyakinan.” (Syarah Shahih Muslim
18/58-59 dan Fathul Bari 13/105)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya Dajjal
dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ujian bagi
hamba-hamba-Nya dengan kejadian-kejadian luar biasa yang diciptakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tangannya yang bisa disaksikan pada
masanya. Dan bagi orang yang memenuhi panggilannya; memerintahkan
langit untuk menurunkan hujan lalu turun dan memerintahkan bumi untuk
menumbuhkan tanamannya lalu terlaksana yang bisa dimakan oleh
binatang-binatang ternak dan dimanfaatkan oleh mereka sendiri kemudian
mereka bisa mengambil manfaat dari binatang ternak baik daging ataupun
susunya. Dan orang yang tidak memenuhi panggilannya serta menolak
seruannya akan ditimpa oleh paceklik penuh kekurangan,
binatang-binatang ternak mereka habis mati, kekurangan pada harta
benda, jiwa, dan buah-buahan. Bersamanya juga ada perbendaharaan
bagaikan mayang kurma dan dia membunuh seseorang lalu menghidupkannya.
Ini semua bukan penipuan melainkan hakikat yang nyata yang diciptakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya pada akhir
zaman nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyesatkan banyak orang dan
memberikan hidayah kepada mereka. Orang-orang yang ragu, niscaya mereka
akan kafir. Dan akan bertambahlah iman orang-orang yang beriman.”
(An-Nihayah/Al-Fitan Wal Malahim 1/121)

Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Pada diri Dajjal terdapat bukti
nyata atas kedustaannya di hadapan orang-orang yang berakal. Karena dia
memiliki wujud fisik serta memiliki bukti dari perbuatannya. Bersamaan
dengan kekurangan pada dirinya bahwa dia adalah orang yang buta sebelah
matanya. Jika dia menyeru manusia untuk mempertuhankannya itu
menunjukkan keadaannya yang paling buruk. Bagi orang yang berakal
mengetahui bahwa dia tidak mungkin akan bisa menciptakan selainnya,
memperbaiki dan memperbagus serta dia tidak sanggup untuk menghilangkan
kekurangan (seperti: matanya yang buta, tulisan kafir di dahinya, dll)
yang ada pada dirinya. Maka ucapan yang paling ringan untuk dikatakan
adalah: ‘Wahai orang yang menyangka bisa menciptakan langit dan bumi,
bentuklah dirimu, perbaguslah dan hilangkan sifat kekurangan pada
dirimu. Dan jika kamu menyangka bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang
baru pada diri Rabb, maka hilangkan apa yang tertulis di antara kedua
matamu’.” (Fathul Bari 13/103)

Ibnul ‘Arabi rahimahullahu berkata: “Segala tanda-tanda kebesaran yang
terjadi pada tangan Dajjal, dari turunnya hujan serta tanah menjadi
subur bagi orang yang memercayainya, dan ketandusan atas orang yang
mengingkarinya, dan segala yang bersamanya berupa perbendaharaan bumi,
bersamanya surga dan neraka dan air yang mengalir, semuanya merupakan
ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar orang-orang yang ragu menjadi
binasa dan orang-orang yang bertakwa menjadi selamat. Semuanya
merupakan perkara yang sangat menakutkan. Oleh karena itu, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada fitnah yang paling
besar dari fitnah Dajjal.” (Fathul Bari 13/103)

Demikianlah beberapa ucapan para ulama bahwa kejadian-kejadian luar
biasa pada diri Dajjal adalah perkara yang hakiki, bukan khayalan atau
sebuah kamuflase. Dan demikianlah keterangan-keterangan nash yang wajib
diimani.

Kiat-Kiat Terhindar dari Fitnah Dajjal

Sebagaimana dalam pembahasan di atas sangat jelas bahwa fitnah Dajjal
amat sangat berat dan besar sehingga tidaklah heran jika Dajjal
memiliki banyak pengikut. Dan pengikut Dajjal yang terbanyak adalah
dari kalangan Yahudi, orang ajam (orang-orang non Arab), bangsa Turki,
orang-orang A’rabi (orang Badui yang dikuasai kejahilan), dan kaum
wanita. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam seperti sabda beliau:

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُوْدِ أَصْبَهَانَ سَبْعُوْنَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

“Yang akan mengikuti Dajjal adalah Yahudi Ashbahan dan 70.000 dari
mereka memakai pakaian yang tebal dan bergaris.” (HR. Muslim no. 5237
dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu)

Dalam riwayat Al-Imam Ahmad rahimahullahu no. 11290 disebutkan: “70.000 dari mereka memakai mahkota.”

Begitu juga dari kaum ‘ajam, telah dijelaskan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Al-Bukhari (no. 3323) dari
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Adapun bangsa Turki disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu: “Yang
nampak, wallahu ‘alam, yang dimaksud dengan orang-orang Turki adalah
para pembela Dajjal.” (An-Nihayah 1/117)

Tentang keadaan orang-orang Badui sebagai pengikut Dajjal terbanyak
disebabkan kejahilan menguasai mereka, sebagaimana dalam riwayat Muslim
rahimahullahu dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu.

Adapun kebanyakan pengikut mereka dari kaum wanita karena keadaan
mereka lebih jelek dari kaum Badui, karena cepatnya mereka terpengaruh
dan mereka dikuasai kejahilan, sebagaimana dalam riwayat Ibnu ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu
dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir rahimahullahu.

Kalaulah demikian besar fitnahnya dan banyak yang mengikutinya, maka
sudah barang tentu kita harus berusaha menyelamatkan diri dari
fitnahnya. Dan inilah beberapa kiat untuk menyelamatkan diri dari
fitnah-fitnah Dajjal.

Pertama: Berpegang teguh dengan Islam dan bersenjatakan iman serta
mengetahui nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang
mulia yang tidak ada seorangpun menyamai-Nya dalam masalah ini.
Diketahui bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang makan dan minum, dan
Maha Suci Allah dari hal itu. Dajjal buta sebelah sementara Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak demikian. Dan tidak ada seorang pun bisa
melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai mati, sementara Dajjal dilihat
ketika keluarnya baik oleh orang-orang kafir atau mukmin.

Kedua: Berlindung dari fitnah Dajjal, terlebih ketika shalat
sebagaimana yang banyak diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Ketiga: Membaca sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi baik awal ataupun
akhirnya di hadapan Dajjal, sebagaimana yang telah disebutkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keempat: Lari dari Dajjal dan mencari tempat perlindungan, seperti kota
Makkah dan Madinah. Karena keduanya adalah tempat yang tidak akan
dimasuki oleh Dajjal, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Imam
Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim dari sahabat ‘Imran bin Hushain
radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
rahimahullahu di dalam kitab Shahih Al-Jami’us Shagir (5/303 no. 6177).

Wallahu alam.

1 Tentu jawabnya bukanlah dia yang dimaksud dalam hadits-hadits Dajjal.
Karena banyak sifat dan keadaan Dajjal yang tidak ada padanya. Dan
tanda-tanda kiamat yang besar itu datang silih berganti dengan cepat
sebagaimana disebutkan dalam sebagian hadits. Dan ini belum terjadi
pada zaman ini. (ed)

Sumber:
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=537

PEMBUKAAN

June 11th, 2007 by alkabumaini

INI BARU PEMBUKAAN
SEDANG MENCOBA
TERIMA KASIH